Senioritas

Di setiap organisasi pastinya akan selalu ada jajaran kekuasaan. Atasan-bawahan. Bos-karyawan. Manager-asisten manager. Yang nyuruh-nyuruh – yang disuruh-suruh. Yang marah-marah – yang dimarah-marahi. Dimana pun Anda bekerja, hierarki ini selalu ada. Begitu pula di kabin. Pasalnya, tangga kekuasaan di kabin ada yang bersifat pidana dan perdata. Yakali. Maksudnya ada yang memang ditentukan karena jabatan dan … Continue reading Senioritas

Push-Up Bra

Semenjak gue menjadi awak kabin, banyak benda-benda baru yang hadirnya mengubah kehidupan gue. Sebut saja koper yang sosoknya senantiasa mendampingi keseharian gue. Yang gue genggam erat dari satu bandara ke bandara lainnya. Yang selalu setia melengkapi dan memenuhi kebutuhan gue. Adapun satu barang yang dampaknya begitu besar terhadap pribadi gue dan mengubah pandangan hidup gue. … Continue reading Push-Up Bra

Dua Tahun

Sepuluh Agustus adalah hari bersejarah bagi gue dan kisah keperawakkabinan gue. Ditanggal ini, tepat dua tahun yang lalu, adalah hari pertama gue mengerjakan penerbangan perdana gue sebagai awak kabin. Merayakan dua tahunan gue dengan karir gue ini, gue menyempatkan diri untuk melempar kebelakang. Throwback maksudnya. … Kala gue masih hijau dulu, gue ingat betul perasaan gue yang … Continue reading Dua Tahun

‘Mayan

Pada suatu petang bekerja lah gue di satu penerbangan Jepang. Tertangkaplah oleh mata, ditengah-tengah barisan penumpang gue, sesosok cici dengan tas jingga mentereng bermerek kereta kuda ditemani kokoh dengan saudara-saudara kokoh yang masih remaja. Karena cici dan kokoh lancar berbahasa inggris, sepanjang penerbangan gue berkomunikasi dengan mereka dalam bahasa inggris. Bukannya gue sombong loh! Buat gue … Continue reading ‘Mayan

Standby (2)

Di post “Standby” gue sempat berkoar-koar betapa pahitnya nasib gue sebagai awak cadangan. Tidak cukup sampai disitu, kini gue kembali mendedikasikan waktu gue untuk berbagi kisah gue dengan tanggung jawab gue yang satu itu. Seiring dengan berjalannya waktu, gue pikir gue akan semakin mudah menerima kenyataan bahwa standby adalah bagian dari paket pekerjaan gue. Gue … Continue reading Standby (2)

Buta Hari

Dua minggu yang lalu *terhitung ketika gue mengetik blog ini*, gue bangun pukul delapan pagi waktu bagian negara tetangga. Padahal biasanya gue baru bangun ketika jemuran tetangga sudah siap diangkat lagi. Hari itu negara tetangga diguyur hujan lebat. Biasanya tatkala hujan turun, gue akan mengintip dari jendela kamar gue untuk kembali tidur, dininabobokan suara bulir … Continue reading Buta Hari

Ayah

"Ibu tahu yang terbaik." Ujar iklan susu, iklan popok, iklan kecap, iklan penyedap rasa, sampai iklan sabun cuci piring. Slogan ini memang benar adanya. Gue sendiri bisa menyaksikan keabsahannya di dalam kabin. Dimulai dari sang ibu melewati pintu pesawat dan mendekati tempat duduk. Dengan sigap, sang ibu tahu siapa yang harus duduk di dekat jendela, … Continue reading Ayah

Standby

Di perusahaan gue, jadwal kerja awak kabin keluar setiap awal bulan. Jadi kurang-lebih gue tahu satu bulan ke depan gue kemana saja, terbang sama siapa saja, libur hari apa saja, dan yang paling penting dari semua itu: dapat gaji berapa. Setiap bulannya email inilah yang paling gue dan rekan-rekan sejawat gue nanti-nantikan. Kalau sampai lewat dari tanggal … Continue reading Standby

Pencitraan

Bagi awak kabin, citra maha penting adanya. Dari semenjak zaman gue training dahulu, berbagai tips penjaga image telah dibagikan. Bahkan ada kelas khusus yang didedikasikan untuk mempertahankan citra baik pramugari. Para awak kabin muda ini diajarkan cara berjalan, duduk, berdiri, jongkok, sampai bagaimana cara keluar-masuk kendaraan yang anggun, elegan, dan nggak gelar peragaan busana Victoria's Secret … Continue reading Pencitraan