Receh

Mengantongi kromosom XX membuat gue tidak asing dengan peristiwa pelecehan seksual. Hidup selama dua puluh sekian tahun lamanya di negara tercinta Indonesia tentunya menyumbang pengalaman gue dilecehkan baik secara fisik maupun verbal.

Dari sekedar disiul-siul di depan Pasar Baru hingga pengalaman ‘bagasi’ gue digenggam akang bermotor di depan gang kosan gue di Bandung dulu.

Gue pun bersyukur kala gue harus bekerja di negara tetangga yang dikenal dengan tingkat kriminalitas yang tergolong sangat rendah. Apalagi kalau dibandingkan dengan ibukota Jakarta.

Pun gue pikir di dalam kabin gue akan jauh dari peristiwa dilecehkan karena gue kerap berasumsi orang-orang yang mampu beli tiket pesawat adalah mereka yang mampu secara finansial. Yang kemudian gue korelasikan dengan kemampuan berpikir yang lebih baik. Yang gue korelasikan dengan perilaku kemanusiaan yang lebih tidak hewani.

Tapi hey! Apalah asumsi selain fitnah yang tak terucap.

Pengalaman pertama gue dilecehkan di kabin terjadi ketika gue masih awak kabin baru. Waktu itu gue masih dalam masa percobaan. Masa percobaan memang masa-masa yang paling berat. Selain masih kesulitan mengingat semua tugas dan tanggung jawab, gue tidak paham bagaimana cara menindaki hal-hal yang tak terduga ini.

Waktu itu gue terbang dengan pesawat Airbus 330 dan bekerja di bagian ekor pesawat. Kisahnya si mesum adalah bos gue dan gue bekerja bersama yang bersangkutan di galley belakang. Penerbangan itu adalah penerbangan bolak-balik dengan jeda hampir satu jam untuk pesawat dibenahi.

Semasa percobaan dulu para awak kabin diwajibkan mengisi satu kartu yang harus diisi para bos guna mengevaluasi kinerja para newbie ini. Gue pun tak elak memastikan bos gue mengisi kartu evaluasi tersebut.

Jeda satu jam antar penerbangan adalah kesempatan gue untuk meminta evaluasi dari si bos. Kala menunggu staf darat menyelesaikan pekerjaan mereka, gue pun menghampiri bos gue yang sedang duduk dibangku penumpang tepat dihadapan pintu darurat.

Si bos memberi titah untuk gue duduk di samping beliau sambil beliau memberi pengarahan akan apa yang harus gue tingkatkan di sektor balik.

Sembari mengakhiri ceramah singkatnya tangan si bos menepuk dan mengusap ujung paha di atas dengkul gue.

Gue tersentak.

Ini tangan apa-apaan?!

Refleks gue untuk segera berdiri membuat si bos melepaskan cengkramannya. Gue sempat-sempatnya berucap terima kasih dengan kaku. Dan bergegas ke galley belakang lalu pura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaan gue yang sesungguhnya sudah selesai.

Untungnya ada senior gue yang menjadi tameng untuk gue bersembunyi dari si bos selama sisa penerbangan itu. Jadilah gue main petak umpet sepanjang hampir tiga jam perjalanan balik ke negara tetangga.

Kali berikutnya, gue terbang ke negara Asia di belahan utara dunia. Lagi, gue terbang dengan pesawat Airbus 330. Pun gue bekerja di galley belakang. Entah ada apa antara gue dan pesawat ini.

Penumpang gue seorang lelaki, duduk tak jauh dari galley belakang. Samar-samar gue mengingat pria ini karena yang bersangkutan adalah salah satu dari segelintir penumpang yang menatap gue kala gue menawarkan makanan dan tersenyum kemudian kala ia berucap terima kasih paska serah-terima nampan makan siang beliau.

Selepas servis makan berakhir, gue pun berinisiatif untuk membersihkan toilet. Pasalnya selama servis makan berlangsung para awak kabin tidak sempat membersihkan toilet. Kini tak ada alasan bagi kami untuk membiarkan toilet berantakan nan harum semerbak hasil fermentasi usus dua belas jari para penumpang.

Di depan area toilet, berdirilah pria berwajah oriental mengantri giliran untuk menggunakan toilet. Si penumpang ini berucap dalam bahasa inggris yang sempurna, “your breasts are beautiful.”

Gue tersentak.

Gimana, Koh?

Gue berusaha mencerna kata-kata yang tidak gue sangka akan gue dengar dari mulut penumpang gue. Masih dalam kondisi terkejut nan terbingung, gue pun membalas, “thank you.”

Sopan santun wanita Indonesia memang tiada duanya!

Untungnya toilet dihadapan gue terbuka. Dengan segera gue ngeloyor masuk ke bilik toilet tersebut.

Tahan napas sembari ngelap dudukan toilet, gue pun mulai mencerna kata-kata si kokoh. Mata gue terpaku pada seonggok kotoran yang tidak ikut tersedot ke dalam lubang toilet.

Gue mengernyit.

Bukan karena jijik dengan kotoran penumpang gue, tapi gue sadar kalau gue baru saja dilecehkan secara verbal.

Gue pun sadar bahwa terima kasih bukanlah balasan yang sepantasnya gue lanturkan.

Lah abis dia bilang si kembar cantik! Ya adalah sopan untuk gue berterima kasih pada orang yang memberi pujian, bukan?

Kisah pelecehan gue sayangnya tidak tamat sampai disana. Bisa jadi novel berseri kalau gue ceritakan satu per satu.

Namun semakin gue menjajaki tangga senioritas, semakin handal gue mencegah penumpang maupun kolega gue untuk bertindak ataupun berucap yang tidak seharusnya. Kalaupun ada penumpang yang kelewat ramah, biasanya berujung pada yang bersangkutan memberi gue kartu nama mereka.

Tentunya pengalaman leceh-meleceh kerap menjadi diskusi sedap dimana-mana. Apalagi dengan orang-orang yang dengan gampangnya menyalahkan seragam para awak kabin yang mengikuti lekuk tubuh. Atau kemudian menyalahkan keramahtamahan kami yang dikait-kaitkan dengan goda-menggoda para kaum adam.

Diskusi ini biasanya menjadi dengan debat kusir tiada akhir. Lah, apalah gue yang sekedar mendalami pekerjaan gue sebagai seorang awak kabin yang hamba?

Pada akhirnya seragam dan senyum gue tidak berkorelasi dengan rendahnya nilai moral orang-orang ini. Apalagi faktanya ada ratusan penumpang-penumpang lainnya tidak berbuat ataupun berucap tak senonoh meski gue memakai seragam yang sama dengan pelayanan serupa.

Sebagai pihak yang dilecehkan, gue hanya ingin berpesan: jangan lecehkan orang lain. Kalaupun tak tahan, jangan kemudian salahkan status gue sebagai awak kabin apabila sampean tidak dapat mengendalikan naluri hewani sampean.

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

2 thoughts on “Receh

  1. raf says:

    i do enjoy flirt with some woman, tapi nggak st8 2 the point kayak gitu juga kali. “your breast”, yaelah. sexual harrasment itu mah. not in proper moment & context, i mean. btw, pernah nulis soal affair antar aircrew/something related? tbh i’m kinda curious, let me know if you ever/gonna write about that.

    Like

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s