Hemat Waktu

Menjadi seorang awak kabin secara tidak sadar membentuk gue menjadi sesosok wanita yang hemat.

Sayangnya bukan hemat uang.

Gaya hidup gue sebagai awak kabin membuat gue tekun memutar roda perekonomian di negara orang. Gue tak elak tebar dolar tatkala gue cuci mata di negeri asing dan tergoda untuk membeli buah tangan.

Gue pun jadi koleksi cindera mata gantungan kunci dari berbagai negara.

Untuk melengkapi koleksi gantungan kunci tersebut, gue turut koleksi pakaian, aksesoris, tas, dan sepatu.

Kata orang bijak, waktu adalah uang.

Maka ketika gue gagal menghemat uang gue pun menghemat waktu.

Untuk memastikan gue memberi pelayanan terbaik di kabin, gue selalu menyempatkan waktu untuk tidur setidaknya delapan jam sebelum gue terbang. Kalau jadwal terbang gue di sore atau malam hari, gue akan menyempatkan tidur siang setidaknya dua jam sebelum gue bersiap terbang.

Untuk memastikan waktu tidur cantik gue maksimal, gue memiliki trik menghemat waktu.

Gue selalu mandi sebelum gue tidur sehingga ketika gue bangun, gue hanya perlu cuci muka dan gosok gigi lalu bergegas dedempulan dengan kantuk di pelupuk mata gue. Tak jarang gue mandi malam sebelumnya.

Trik ini sangat berguna tatkala gue harus bangun subuh kala penerbangan gue bertepatan dengan waktu para DJ bebas tugas. Kalau penerbangan ini jarak jauh, trik mengemat waktu ini membuat gue tidak mandi selama lebih dari dua puluh empat jam. Apalagi kalau ditambah gue langsung keluyuran ketika gue tiba di negeri orang.

Pedoman kebersihan diri gue kerap gue pertanyakan ketika gue mengerjakan penerbangan ke negeri Paman Sam. Gue yang begitu sampai hotel langsung cus tebar dolar sampai malam membuat gue melewatkan acara mandi selama hampir tiga puluh enam jam.

Ih lu jorok banget sih G!

Nilai PLKJ gue boleh lu pertanyakan! Tapi Ibu Pertiwi diam-diam berterima kasih pada orang-orang yang hemat waktu seperti gue. Karena selain hemat waktu, gue pun hemat air, sabun, shampoo, sekaligus listrik.

Di kamar mandi hotel para tamu sering diingatkan dengan kartu berisikan semboyan:

“Save our planet!” atau “save water save earth” diikuti dengan segenggam fakta tentang tingginya konsumsi air dunia dan dampaknya pada Ibu Pertiwi yang air matanya berlinang.

Gue adalah segelintir orang yang sungguh-sungguh menyelami kampanye menyelamatkan bumi dari kekurangan air bersih. Tentu saja dengan berkompromi dengan nilai kebersihan diri gue.

Memang yang gue lakukan belum sampai tahap membangun sistem air bersih bagi desa-desa di pelosok tanah air sebelah timur. Namun gue percaya sesuatu yang besar di mulai dari tindakan yang kecil.

Dimulai dari menghemat waktu, gue pun kini tekun menghemat air.

Semoga tindakan positif gue ini dapat menjadi contoh bagi kawan-kawan pembaca cerita kabin.

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s