33G

Pada suatu hari di akhir bulan Mei bekerjalah gue menuju negeri Paman Sam. Di sektor itu gue bekerja di lorong sebelah kiri, yang artinya gue bekerja melayani penumpang yang duduk di bagian A C D dan E. Hari itu pesawat tidak penuh dan gue banyak berbincang dengan wanita paruh baya yang duduk di 33D.

Pasalnya wanita tersebut adalah orang Indonesia asal Manado yang sedang akan mengunjungi anak-cucunya yang tinggal di belahan dunia utara. Dua kursi kosong memisahkan beliau dari seorang pria muda duduk di tepi lorong seberang: 33G.

Si pria ini sawo matang, tinggi besar, sekiranya pendiam, dan nampak sopan. Gue nggak tahu juga sih, soalnya gue nggak melayani yang bersangkutan. Yang jelas gue merasa si abang kerap melayangkan pandangan kala gue berbincang dengan Ibu 33D.

Perjalanan menuju benua yang satu ini memakan waktu cukup lama dengan dua kali servis makan beserta segenap cemilan diantaranya. Selepas servis makan kedua, biasanya para penumpang terjaga dengan awak kabin mulai sibuk bersiap-siap untuk mendarat.

Gue pun sigap mengelilingi kabin untuk mengumpulkan benda-benda yang tidak seharusnya berada di kabin saat mendarat nantinya. Ketika gue membuka gorden penutup galley, gue mendapati abang 33G di hadapan gue meminta gue untuk mengisi botol minumnya. Gue mengambil botol minum tersebut dan menghimbau beliau untuk kembali ke tempat duduknya.

Ketika gue menghampiri si abang dengan botol minum yang kini terisi air, si abang memulai pembicaraan dengan gue. Dari perbincangan singkat itu gue pun mendapatkan informasi bahwa si abang lokal negara tetangga dan sedang kuliah kedokteran di satu kota di negara tujuan.

Akhir dari sesi Anda-bertanya-saya-menjawab itu diakhiri dengan si abang meminta alamat muka buku (baca: facebook) gue. Tak lama selepas mendarat kami pun saling bertukar pesan lewat muka buku.

Si abang 33G ini manis bagai gula jawa. Cuplikan pesan si abang berbunyi:

“By the way, you are really attractive! I was spending the whole plane ride trying to start a conversation with you haha”

Kalau diartikan ke basa Sunda:

“Maneh teh kacida pisan pikaresepeunna. Salami di kapal urang meni hayang ngobrol jeung maneh haha”

Ih abang bisa ajah!

Gayung tak bersambut, percakapan gue dengan si abang 33G tidak bertahan lama. Tapi dari percakapan antara gue dan abang yang singkat, ada bagian dari pertanyaan si abang yang menggelitik gue.

Begini cuplikannya:

Singkatnya pertanyaan si abang adalah:

“Kok milih jadi awak kabin? Kenapa nggak milih kuliah atau melakukan pekerjaan lainnya?”

Dari pertanyaan itu gue mendapati si abang berasumsi dua hal. Satu, bahwa gue tidak kuliah. Dua, bahwa ada pekerjaan di luar sana yang menurut si abang lebih baik.

Mungkin pertanyaan abang 33G ini pernah terlintas di pikiran kalian tapi tidak elak kalian sampaikan. Pun pernah mantan calon mertua gue menjabarkan opsi karir lainnya disamping menjadi seorang awak kabin.

“Udah susah-susah kuliah kok cuma jadi pramugari?” ujar beliau.

Menjadi seorang awak kabin memang bukan pilihan karir high end bagi beberapa orang. Ada yang terang-terangan bilang ke gue kalau pekerjaan gue sesungguhnya adalah pelayan di restoran yang kebetulan restorannya bisa terbang.

Analogi tersebut tidak sepenuhnya salah. Memang bagian dari pekerjaan gue adalah melayani penumpang.

Yang salah adalah pemikiran bahwa pekerjaan melayani orang adalah pekerjaan kelas dua. Yang salah adalah merasa lebih baik dari orang lain karena karir sampean berlabuh di gedung pencakar langit ibukota.

Pekerjaan gue memang tidak susah. Cuma nawarin ayam pakai nasi atau ikan pakai kentang. Yang susah adalah menyakinkan penumpang gue bahwa tidak mendapat pilihan makanan di kabin bukan lah akhir dari kehidupan. Bahwa gue tidak bisa minta kapten mampir ke warung barokah untuk beli nasi pakai ayam seperti yang ia minta.

Pekerjaan gue bukan menyelamatkan nyawa orang lain. Cuma memastikan para penumpang duduk tegak pakai sabuk pengaman. Yang susah adalah ketika tiba-tiba pesawat melalui turbulence dan si penumpang yang ngeyel nggak mau pakai sabuk pengaman ini cedera. Yang susah adalah mengendalikan kepanikan ketika yang tidak diharapkan terjadi.

Yang gue lakukan memang tidak membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat jelata di tanah air. Atau membela hak para kaum tertindas. Atau menjaga perdamaian dunia. Atau membangun roket untuk membuktikan kebundaran bumi ini.

Tapi yang pasti menjadi awak kabin mengajarkan gue banyak hal tentang menangani perbedaan. Bahwa di satu pesawat saja setiap penumpang berbeda-beda. Penampilan mereka berbeda, sikap mereka berbeda, gaya bicara mereka, aksen, pilihan hidup, sampai ras dan kepercayaan setiap orang berbeda-beda.

Yang paling susah adalah meresapi perbedaan ini dan memperlakukan semua orang sama, padahal setiap individunya saja berbeda. Yang susah adalah menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh penumpang yang gue layani di kabin.

Gue belajar peduli dengan orang lain, baik dengan penumpang gue maupun dengan sesama kolega gue. Yang susah adalah mengesampingkan segala ego gue dan mendahulukan orang lain. Yang susah adalah menyimak dan memberi perhatian pada orang yang tidak gue kenal. Yang susah adalah menghargai orang lain dan pendapat mereka.

Pilihan karir gue memang tidak dipandang mulia oleh kebanyakan orang. Cuma harus tampil cantik dan bermanis manja, ceunah. Yang susah ketika om-om beristri minta nomor hp gue dan si om adalah penumpang prioritas. Nah!

Tapi melalui pekerjaan ini gue belajar mengenal dan memperlakukan orang lebih baik. Yang pasti gue belajar untuk tidak merendahkan orang lain ataupun pekerjaannya.

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

2 thoughts on “33G

  1. superanindita says:

    Halo, seneng deh baca cerita lo, udah beberapa kali nih baca post di blog ini,menarik banget soalnya! wkwkkw. kenalin, ini Dita (SBM08)
    Gue tau pertama kali karena Nabilah Shabrina (EL08) suka nge-share isi blog lo di timeline LINE dia, trus gue jadi tertarik baca hahaha.
    Keren bangett tau jadi pramugari itu, gue merasa kayak orang2 pilihan cantik nan sabar nan pintar! soalnya gue ada kawan polandia yang cantik banget, pinter parahh dan bisa banyak bahasa trus dia jadi pramugari Emirates!

    Semoga karir lo lancarr dan lo pun bergembira ya (ini bahasa apa sih)
    Salam kenal yaa!

    Liked by 1 person

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s