Yang Empunya Tanah

Adalah suatu kebutuhan primer bagi gue untuk mencari tempat bernaung di negara tetangga. Gue pun memutuskan untuk tinggal bersama orang lokal atau kerap disebut sebagai Yang Empunya Tanah. Kalau diartikan ke bahasa inggris menjadi Landlord. Maknanya nggak jauh-jauh dari ibu/bapak kosan.

Yang Empunya Tanah gue adalah sepasang suami-istri muda dengan seorang putri yang saat itu berusia satu tahun tiga bulan. Suami istri muda ini memiliki karir masing-masing. Sang suami bekerja di departemen kepolisian sedangkan sang istri adalah manajer proyek suatu perusahaan.

Mereka berdua bekerja siang dan malam memenuhi kebutuhan keluarga. Maksudnya, sang suami bekerja di siang hari sedangkan sang istri berangkat kerja di malam hari. Sungguh kerja sama yang harmonis dari pasangan Yang Empunya Tanah.

Seorang gue yang tumbuh besar dalam belaian ibu pertiwi tak elak menjadikan keluarga Yang Empunya Tanah sebagai gambaran keluarga umum negara tetangga. Meski secara statistik gue sudah gagal karena jumlah sampel gue yang kurang bervariasi, namun gue tidak mampu menghindari kecenderungan gue mengeneralisasi sampel tunggal gue.

Sebagai awak kabin yang kerap kali terbang jauh dari base, gue terhitung jarang berada di rumah. Pernah dalam satu bulan gue cuma tinggal selama tiga hari di negara tetangga. Sisanya gue bekerja atau pulang ke tanah air. Pun jarang bertatap muka dengan Yang Empunya Tanah, namun mereka selalu tampak harmonis di mata gue.

Buat gue keluarga Yang Empunya Tanah memiliki efisiensi yang sangat tinggi. Pasangan suami-istri tersebut memiliki waktu yang terbatas untuk saling bertatap muka. Seperti yang gue jelaskan tadi: sang suami pergi kerja di pagi hari hingga sore hari sedangkan sang istri berangkat kerja sebelum sang suami pulang ke rumah.

Meski begitu komunikasi mereka sangat baik. Mereka berdiskusi dengan metode yang sangat unik yang tidak gue pahami namun gue rasakan efektif. Pasalnya, mereka berkomunikasi dalam Bahasa Hindi.

Meski tidak mengerti, menyaksikan mereka jarang meneriaki satu sama lain, gue pun menarik kesimpulan bahwa mereka berkomunikasi dengan baik.

Putri mereka yang mungil memang gue akui sangat cemerlang. Kala gue pertama hadir di rumah tersebut, putri Yang Empunya Tanah sudah diperkenalkan dengan alfabet. Sedikit demi sedikit ia dapat membaca dengan kemampuan wicara seadanya.

Selang beberapa bulan, gue bisa mendengar putri mereka mengenal angka dan warna. Tak berapa lama kemudian gue mendengar sang gadis mungil menjawab pertanyaan dasar berhitung.

Setahun sudah gue tinggal bersama mereka, mengamati kemudian sang ibu mulai memperkenalkan perkalian pada putrinya. Awalnya gue merasa lucu karena gue pun turut bernostalgia kala masa-masa gue menatapi tabel perkalian yang direkatkan di kaki ranjang oleh nyokap gue.

Di satu titik gue mulai sadar bahwa putri yang sedang diajarkan perkalian tersebut baru menginjak usia dua tahun lebih satu bulan. Bicara pun masih sepatah-sepatah. Yang gue ingat, gue tidak mengenal perkalian hingga gue duduk di bangku SD.

Gue mulai mempertanyakan metode mendidik anak ala Yang Empunya Tanah. Gue memang tidak layak mengoreksi apa yang mereka rasa terbaik bagi anak mereka. Namun bukan kah usia dua tahun adalah usia dimana para anak-anak dengan pipi bulat sempurna yang tampak tumpah ke segala arah itu untuk bermain sepuasnya?

Bukan kah usia dua tahun adalah usia dimana anak-anak ini teriak-teriak minta dibelikan permen di supermarket? Biasanya sih di kabin anak-anak seusia sang putri disodori ipad oleh orang tua mereka agar sang anak bisa duduk diam.

Sesungguhnya gue tidak tahu apa yang diharapkan dari anak usia dua tahun. Namun naluri kewanitaan gue tidak setuju dengan pertanyaan lima dikali tujuh ditujukan ke anak usia dua tahun.

“Disini memang begitu,” ujar kolega gue yang memang orang lokal. “Ya nggak sampai perkalian juga sih. Tapi memang anak-anak sudah diajarkan materi sekolah dasar sejak dini. Supaya terbiasa dengan sekolah nantinya. Banyak kok kursus baca-tulis untuk anak TK guna mempersiapkan anak-anak ini masuk SD.”

Kolega gue pun mulai cerita panjang lebar tentang sistem edukasi di negara tetangga yang ibarat benteng takeshi. Pendeknya, apabila si anak gagal memperoleh nilai cemerlang di bangku SD, ia tidak bisa tembus ke sekolah menengah favorit yang jauh kedepannya akan menentukan universitas mana yang dapat si anak pilih.

Intinya, gagal semasa SD dipercayai menjamin masa depannya tidak cemerlang.

Di titik ini gue sadar betapa besarnya tekanan hidup di negara tetangga. Persaingan yang selama ini gue dengar terjadi dikalangan kaum pekerja ternyata sudah dirasakan sejak dini. Terlalu dini mungkin.

Tak berhentinya gue bertanya pada diri gue sendiri apa yang akan terjadi pada gadis kecil anak Yang Empunya Tanah kelak. Gue mengharapkan yang terbaik tentunya bagi gadis cemerlang yang sudah mengenal perkalian di usia dua tahun.

Menyicip kehidupan di negeri orang membuat gue sedikit banyak introspeksi akan apa yang ditawarkan di tanah air. Gue bertanya-tanya dalam hati (dan tentunya dalam tulisan) apakah anak-anak negeri pertiwi harus dipecut seperti anak Yang Empunya Tanah agar generasi penerus bangsa bisa memajukan Indonesia semaju negeri tetangga sana?

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

3 thoughts on “Yang Empunya Tanah

  1. dinda says:

    halo kak salam kenal …. kalo SD negeri di jakarta timur kalo mau masuk SD harus bisa baca tulis dan hitung siii tp gatau kalo perkalian ponakan ku bgitu soalnya trus di kampungku di lampung jg yg mau masuk sD terutama yg neegri di les in dlu huhuuhuh aq sebagai emak2 yg anaknya udah TK aq jg suka worry yaa secara dlu aq baru bisa baca pas masuk SD huaaaa

    Liked by 1 person

    • Sang Pramugari says:

      Hai Dinda!

      Wah baru tau kalo kehidupan kids jaman now begitu keras!! Semoga tidak kemudian berbalik merusak pribadi bocah-bocah ini ya. Kadang gue suka gerah sama bangsa negara tetangga yang begitu kompetitif karena nampaknya nilai kompetisi berakar di darah daging mereka sejak kecil.

      XOXO

      Like

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s