Tepat Waktu

Memiliki profesi sebagai awak kabin, ada banyak aspek kehidupan gue yang seeloknya berubah. Salah satu aspek yang perubahannya paling signifikan adalah keseriusan gue akan waktu.

Sedari kecil dulu, gue paling sering telat ke sekolah. Setiap pagi selama hampir dua belas tahun gue diantar ke sekolah, tak pernah satu hari pun orang tua gue luput dari meneriaki gue untuk bergegas berangkat.

Tak elak wajah gue sering terlihat beredar di tepi kolam ikan di tengah-tengah sekolah tatkala gue disetrap satu jam pelajaran lamanya. Meski begitu bukannya gue malu, yang ada gue bahagia karena gue bisa melihat kecengan gue turut disetrap bersama gue. Cinta lokasi, kata orang.

Tatkala gue mengejar gelar sarjana di Bandung, gue terpaksa hidup jauh dari orang tua. Nggak ada lagi alarm berjalan yang nggak bisa gue snooze sampai akhirnya gue bangkit dari kasur. Dilepas mandiri, bukannya gue semakin terbiasa tepat waktu, yang ada gue sering telat bahkan sampai harus bolos kelas.

Terbiasa selenge’an semasa sekolah dan kuliah dulu, gue kalang kabut ketika gue hidup di negara tetangga. Pasalnya, selain tidak ada nyokap yang bangunin gue sampai gue terbangun penuh, gue pun tidak bisa sembarang bolos kerja.

Gue harus berangkat lebih pagi lagi untuk mengejar jadwal bus ataupun kereta yang hadirnya tidak sesering angkot di Bandung. Kalau benar-benar kepepet, gue terpaksa naik taksi yang harganya bisa sepuluh kali lipat harga bus. Namun berapapun harganya gue rela bayar selama gue nggak ditinggal pesawat.

Perusahaan gue sangatlah serius akan perihal waktu.

Sewaktu pelatihan dulu, instructor gue pernah memberi wejangan:

“Nggak ada istilah tepat waktu! Yang ada adalah telat atau lebih pagi.”

Beliau menuntut para awak kabin untuk hadir sepuluh menit sebelum kelas dimulai. Lebih dari itu kami dianggap telat. Kebetulan instructor gue galak banget dan beliau pun sangat tepat waktu.

Pernah anak-anak sekelas gue hadir lima menit sebelum waktu yang dijanjikan dan beliau sudah menanti dengan wajah murka. Menurut beliau kami tegolong telat versi keterlaluan. Alhasil kelas hari itu berakhir dengan cucuran air mata paska dimarahi sang instructor.

Selepas pelatihan, masalah waktu menjadi kian krusial. Pasalnya, setiap menit berkaitan dengan gaji dan setiap peser yang masuk ke rekening gue berkaitan dengan cerahnya masa depan gue.

Gaji gue ditentukan dari lamanya penerbangan gue. Apabila gue terbang lebih lama dari waktu-waktu tertentu, nilai gaji gue dikalikan dua setengah. Terkadang gue suka bersorak dalam hati apabila penerbangan gue ditunda yang berakhir pada gaji gue penerbangan tersebut berlipat ganda. Inilah rahasia para awak kabin untuk tetap tersenyum kala penumpang bete kala penerbangannya ditunda berama-jam.

Nominal gaji gue pun berbeda-beda apabila gue tiba di out station di rentang waktu makan pagi, makan siang atau makan malam. Pada hakikatnya, nominal gaji gue di out station berkaitan erat dengan harga makan pagi, siang, dan malam di negara tersebut.

Apabila gue mendarat di negara tetangga setelah waktu tertentu, gue berhak pulang diantar taksi bandara. Diluar rentang waktu tersebut gue harus pulang sendiri. Terkadang demi mendapat transportasi para awak kabin bekerja sama dengan para penerbang agar tiba di terminal di waktu yang tepat.

Tidak hanya uang, waktu pun berkaitan erat dengan nama baik. Pencitraan dan kenyamanan selama gue bekerja sekian belas jam di pesawat ditentukan dari kesan pertama yang gue tawarkan ke kerabat gue ketika gue tepat waktu hadir di ruang pengarahan yang diselenggarakan dua jam sebelum penerbangan.

Apalagi ketika gue masih dalam masa percobaan dahulu. Gue mati-matian bangun lima jam sebelum terbang demi sampai ke ruang pengarahan satu jam sebelum pengarahan dimulai. Menjadi bagian dari dasar piramida senioritas, adalah budaya turun-temurun bagi si anak bawang untuk menulis informasi tentang penerbangan yang akan dilakukan. Seperti berapa lama penerbangan berlangsung, berapa perbedaan waktunya, status keamanan airport dan kota yang akan dikunjungi, sampai pelayanan macam apa yang akan dilaksanakan selama penerbangan.

Ketika gue menjadi orang pertama di ruang pengarahan gue mendapat ketenangan ilahi dan percaya diri yang lebih ketika rekan kerja gue komentar, “pagi amat neng?”

Harapan gue senior-senior gue akan lebih pemaaf kala gue ngerepotin yang bersangkutan di pesawat nantinya karena kesan pertama yang gue berikan adalah gadis yang tepat waktu.

Pada kenyataannya semua itu adalah angan-angan semata. Datang lebih pagi tidak meninggalkan jejak di ingatan para senior gue. Sayang sekali.

Meski kini gue menjajaki hierarki senioritas, gue masih merasa malu untuk menjadi orang terakhir yang tergopoh-gopoh mencari kursi kosong untuk duduk di ruang pengarahan. Jadi jangankan telat, sebagai awak kabin yang masuk ruang pengarahan paling akhir sudah menjadi mimpi buruk bagi gue.

Selain dihimbau untuk hadir lebih pagi, instructor gue pun turut memberi kata-kata mutiara yang hingga kini tidak pernah gue lupakan:

“Pesawat tidak pernah menunggu kita, kita yang menunggu pesawat!”

Intinya ya nggak jauh dari kalau ketinggalan pesawat, yang salah nggak pernah pesawatnya. Memang seharusnya penumpang yang menanti-nantikan pintu pesawat untuk dibuka. Kecuali Anda yang empunya perusahaan, nggak ada cerita pesawatnya nungguin sampean.

Selain penumpang yang bisa ketinggalan pesawat, awak kabin pun tidak luput dari probabilitas keji ditinggal burung besi itu. Pernah ada awak kabin yang ditinggal di satu negara di Eropa karena yang bersangkutan keasikan ngantri balik pajak paska belanja tas bermerek.

Alhasil sang awak kabin diberi surat peringatan oleh perusahaan. Doi pun menjadi tenar dengan gelar awak kabin yang pernah ditinggal pesawat.

Kebiasaan baik tepat waktu tak elak gue terapkan di aspek kehidupan gue lainnya. Gue kerap datang paling tidak sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan. Sayangnya nggak banyak orang yang menghargai budaya tepat waktu seperti yang perusahaan gue ajarkan.

Parahnya gue jadi gampang banget kehilangan perasaan (ilfil maksudnya) untuk orang-orang yang tidak tepat waktu. Bagi gue penting untuk lawan bicara gue menghargai waktu gue seperti gue menghargai waktu dia. Keseriusan gue akan waktu memang tidak main-main.

Pernah gue janji kencan dengan seorang pria di negara tetangga. Sang pria datang sepuluh menit terlambat. Kalau hanya terlambat, gue bisa maklumi. Yang tidak bisa gue terima adalah yang bersangkutan tidak meminta maaf ataupun merasa bersalah dengan keterlambatan dia. Padahal gue datang dua puluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

Bagi yang penasaran akan kisah cinta gue, hari itu adalah hari terakhir gue jumpa dengan yang bersangkutan. Tidak ada kencan-kencan berikutnya bagi si abang tukang telat.

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s