Push-Up Bra

Semenjak gue menjadi awak kabin, banyak benda-benda baru yang hadirnya mengubah kehidupan gue. Sebut saja koper yang sosoknya senantiasa mendampingi keseharian gue. Yang gue genggam erat dari satu bandara ke bandara lainnya. Yang selalu setia melengkapi dan memenuhi kebutuhan gue.

Adapun satu barang yang dampaknya begitu besar terhadap pribadi gue dan mengubah pandangan hidup gue. Benda pusaka itu ialah push-up bra.

Semasa gue masih dibentuk menjadi individu pramugari yang bermutu di kelas pelatihan dulu, ada satu kala ketika gue melalui proses pengukuran tubuh guna membuat seragam kerja. Di masa ini lah instructor gue mewanti-wanti para wanita-wanita yang tidak diberkahi dengan buah dada yang gadang untuk mengenakan push-up bra.

Tergolong lah gue di dalam kelompok dada yang tidak memenuhi taraf kebesaran. Dimana ukuran aset kewanitaan gue yang tidak pernah gue pertanyakan sebelumnya ini dinilai kurang menonjol.

Awalnya gue merasa tersinggung. Ini adalah tindakan objektifikasi kaum wanita!

Ingin hati memberontak, namun apa daya gue butuh menafkahi diri untuk mendapat sesuap nasi. Mana beras di negara tetangga harganya mahal sekali. Maka berangkat lah gue dengan S, kawan senasib gue, untuk mencari push-up bra di pusat perbelanjaan terdekat.

Push-up bra yang harus dibeli modelnya tidaklah sembarangan, dengan ukuran sumpelan yang nggak boleh dibawah grade tiga. Kalau kebingungan, para senior memiliki rekomendasi merek yang khasiatnya sudah mereka rasakan. Kalau terbatas oleh dana, ada pula toko pakaian dalam yang memberikan potongan harga bagi para bidadari dengan dada yang tidak memadai ini.

Membeli push-up bra buat gue rasanya seperti mempertanyakan karunia Ilahi yang selama ini gue syukuri. Rasanya seperti dipaksa berdusta dihadapan orang banyak. Seperti menistakan jati diri!

Ketika gue berada di dalam ruang ganti, gue menatap pantulan aset gue di kaca yang masih terbalut bra sederhana yang biasa menemani hari-hari gue. Tak elak nurani ini bertanya, “emang si kembar sekecil itu ya?”

Hati gue berbalik iba ketika gue coba mengenakan push-up bra level empat dan melihat aset gue didorong ke atas oleh sepasang buntalan busa itu. Mereka terlihat tertekan kala berhimpit satu sama lain, menanggalkan jarak yang meski memisahkan mereka, namun mendekatkan mereka pada kebebasan pribadi yang hakiki.

Kasihan kalian. Yang tabah ya, nak.

Namun demikian, tiada disangka bahwa push-up bra tidak hanya menopang aset kewanitaan gue! Tanpa gue sadari, kepercayaan diri gue pun ikut terdorong dan melambung seiring dengan menonjolnya aset kembar gue.

Gue mulai memahami fungsi estetika push-up bra ketika gue melihat pantulan diri gue dalam balutan seragam gue. Gue sendiri nggak nyangka bahwa pakaian dalam yang satu ini dapat memiliki peran yang begitu penting dari seragam gue. Pasalnya, seragam gue yang pas badan ini kurang menarik apabila tidak melekuk atau pun menonjol di bagian-bagian tertentu.

Ada rasa bangga yang memercik di sudut hati gue kala gue mengamati lekuk sempurna tubuh gue dalam balutan seragam dan push-up bra gue. Kini gue paham betul mengapa Nona H bersikukuh mewajibkan gue memakai push-up bra level tertentu.

Tidak hanya itu, Nona H, instructor gue yang baik hati itu, turut menjelaskan bahwa dalam setiap industri jasa, eye contact atau kontak mata memiliki peran yang sangat krusial. “Ketika kita berkomunikasi dengan lawan bicara, tataplah matanya! Kalau mereka duduk, maka jongkok lah supaya eye level-nya setara!” ujar beliau.

Nah, kalau para penumpang duduk manis selama penerbangan dan kami para pramugari sedang tidak perlu berkomunikasi secara verbal, tau dong eye level mereka setara dengan bagian tubuh yang mana? Rupanya kontak mata dengan penumpang tidak selalu kontak antar mata fisik, saudara-saudara! Mata batin pun perlu diperhitungkan.

Seperti si kembar yang kembali ke ukuran semula setiap gue melepas kaitan push-up bra gue, kepercayaan diri gue pun kempis gue setiap kali gue berpaling dari cermin ke hadapan penumpang-penumpang gue.

Kepercayaan diri hampa yang gue dapat dari pantulan kaca itu tidak membuat kemampuan komunikasi gue lebih lancar ketika gue berbincang dengan penumpang. Gue sempat gelagapan setiap kontak mata mereka berpindah dari mata batin ke mata fisik gue kala gue menawarkan makanan dengan bahasa inggris yang tertatih-tatih.

Perlu waktu tiga bulan bagi gue untuk bisa lepas dari jeratan push-up bra effect. Yakni ketika gue mulai mengenyampingkan penampilan luar gue, yang hanya gue kagumi di depan kaca, dan mulai membenahi dengan apa yang di dalam.

Dengan membeli krim pembesar buah dada, misalnya.

Ha! Enggak lah, bercanda…

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

 

Catatan kaki:

Cerita Kabin adalah kisah pribadi yang gue sampaikan tidak lepas dari keterlibatan majas hiperbola dan unsur subjektivitas yang tinggi. Cerita yang gue sampaikan tidak kemudian mewakili para awak kabin secara keseluruhan. Dimohon kebijaksanaan pembaca untuk tidak kemudian menambah perubahan makna generalisasi ataupun asosiasi pada cerita yang telah Anda baca. Apalagi menjadikan Cerita Kabin sebagai acuan literatur dalam penelitian ilmiah.

Advertisements

One thought on “Push-Up Bra

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s