Sarkastik

Gue inget banget di babak kedua seleksi penerimaan pramugari, gue bertemu dengan Mbak F, sang interviewer. Mbak F ini cantik, eksotis nan modis -tipikal wanita karir idaman tiap kaum hawa.

Siang itu duduk lah gue dihadapan Mbak F dengan kupu-kupu grogi aktif mengepakkan sayapnya di dalam perut gue. Setelah basa-basi lucu tentang kehidupan gue, Mbak F menyuruh gue berdiri sambil membaca paragraf singkat yang ditulis dalam bahasa inggris. Untuk menilai kemampuan gue berbahasa asing, terka batin gue.

Rupanya selain menyimak kefasihan gue berbahasa inggris, Mbak F turut memerhatikan bentuk tubuh gue.

Kok lu tau, G? Ge-er aja kali?

Oh, gue tau satu detik setelah gue menaruh kertas berisi paragraf yang gue sudah lupa apa isinya itu dan gue kembali ke tempat duduk gue semula.

“Kamu kapan terakhir berolahraga?” ujar Mbak F singkat.

Singkat namun tajam. Menusuk sampai ke lubuk hati yang paling dalam.

Disitu saya merasa sedih.

Gue sempat kehilangan kata-kata. Terkejut dengan pertanyaan yang tidak pernah gue duga sebelumnya. Gue pun menjawab pertanyaan Mbak F sesuai fakta dengan naifnya. Namun demikian, bagian kecil dari otak besar gue berbisik bahwa ada makna mendalam dari pertanyaan tersebut.

Selepas wawancara dengan Mbak F gue pun memikirkan kata-kata beliau dengan lebih sungguh-sungguh. Di mobil gue baru betul-betul paham intisari dari pertanyaan beliau. Tak elak kepercayaan diri gue sedikit berdarah.

Di post Kisah Gadis Sang Pramugari gue cerita betapa terpuruknya gue sebelum gue menapaki jenjang karir gue yang sekarang. Dimasa kelam itu kehidupan gue memang agak kurang. Selain kurang kehadiran sesosok pria, gue juga kurang berolahraga dan kurang memerhatikan pola makan gue. Alhasil bentuk tubuh gue pun agak kurang ideal, terutama mengingat gue sedang melamar ke profesi yang body mass index nya dimonitor.

Cerita punya cerita, ketika gue berada di babak lebih lanjut gue menemukan fakta bahwa Mbak F dulunya adalah awak kabin di perusahaan yang sama. Sejak saat itu gue menaruh curiga, jangan-jangan awak kabin kalau ngomong harus begitu?

Dan kecurigaan gue pun terjawab lah!

Selama berbulan-bulan gue merasakan langsung perihnya disilet dengan sindiran-sindiran ultima hingga hati gue bernanah. Lama-kelamaan gue pun menjadi terbiasa. Malah turut fasih berbahasa sarkasme!

Ketika gue kepanasan, gue akan bilang, “duh baju gue kurang tebel nih!”

Ketika gue kelaperan, gue bilang, “kok nggak ada yang kasih tau gue ini udah bulan Ramadhan sih?”

Ketika gue ketemu orang yang ngaret, gue bilang, “kayaknya jam gue ajah deh yang berdetak lebih cepat.”

Tak elak, sahabat gue pun kerap menjadi korban kesarkastikan gue. Padahal gue nggak bermaksud menyakiti hati ia yang rapuh itu. Nampaknya kemampuan gue bertutur sarkasme telah berkembang pesat hingga sarkasme pun menjadi bahasa kasih gue.

Menurut gue sarkasme adalah seni bertutur kata yang indah. Gue mulai mencintai sakrastika seperti matematis mencintai matematika.

Ketika gue disindir orang lain, bukannya gue merasa sakit hati malahan gue berbalik kagum dengan kemampuan yang bersangkutan. Terutama ketika sarkasmenya mampu menebus hati gue yang telah menebal dan semakin kebal terhadap perihnya kehidupan.

Kini gue pun paham mengapa Mbak F menggunakan sarkasme terhadap gue waktu itu. Bayangkan kalau beliau harus berkata, “G, kamu gemuk.”

Atau, “G, saya rasa tubuh kamu kurang proporsional.”

Tidak enak di dengar, bukan? Nanti Mbak F dibilang main fisik, terus gue ngadu ke mamah papah! Nangis! Hah!

Malah sekarang gue merasa kagum dengan kemampuan Mbak F bertutur sarkasme. Tiada dendam diantara gue dan beliau. Beliau adalah inspirator dan guru sarkastika pertama gue. Sarkasme beliau akan selalu gue kenang di hati gue yang sempat berdarah.

Terima kasih Mbak F!

 

 

XOXO,

Sang Pramugari

Advertisements

2 thoughts on “Sarkastik

  1. hejnyd says:

    Hi G.. gue juga punya sahabat.. waktu itu gara2 dia gak paham sama cerita gue, dia tiba2 bilang gini (padahal gue uda kasih tau, dia aja gak nangkep2) :

    ” Hari ini Jakarta panas ya!!!! Kok bajunya gak diangkat2, uda kering loh!! ”

    Di Jakarta kebetulan lg mau ujan, hampir gue jawab “Engga kok mendung..” cuma bener kata lo G, gue pun kebal terhadap sindiran 😀 practice makes perfect…

    Like

.G

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s